CETAK SDM KESEJAHTERAAN SOSIAL MELALUI DIKLAT MPKS REGIONAL KALIMANTAN

Banjarbaru 12/09/2019, BBPPKS Regional IV Kalimantan sebagai UPT. Badan Pendidikan Penelitian dan Penyuluhan Sosial Kementerian Sosial RI yang bertempat di Jalan Trikora RT.32 dan RW.05 Kec. Landasan Ulin Banjarbaru setelah menyelesaikan Diklat Luring FDS PKH dilanjutkan dengan  Diklat MPKS Bagi Aparatur di Regional Kalimantan. Sebagai salah satu peran dan fungsinya untuk mengembangkan dan menciptakan manager-manager Pembangunan Kesejahteraan Sosial melalui pendidikan dan pelatihan. BBPPKS Regional IV Kalimantan melaksanakan Diklat Manajemen Pembangunan Kesejahteraan Sosial (MPKS) bagi Aparatur Pemerintah di Regional IV Kalimantan dari tanggal 9 s.d 18 September 2019 di Banjarbaru Kalimantan Selatan.

Diklat yang dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Pendidikan, Penelitian dan Penyuluhan Sosial Kementerian Sosial RI. ini di ikuti oleh 30 orang peserta diklat yang berasal dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sebagai stakeholder dan relasi kerja BBPPKS Regional IV Kalimantan.

Diklat MPKS ini diharapkan mampu menciptakan manajer-manajer Pembangunan Kesejahteraan Sosial di masing-masing daerah perwakilan para peserta diklat, sehingga kelak dapat mewujudkan manajemen pembangunan kesejahteraan sosial yang profesional, terarah, terpadu dan berkelanjutan.

  

Wujud Nasionalisme Dalam Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-74

Banjarbaru 17 Agustus 2109. Peringatan HUT Kemerdekaan RI. Ke-74 yang bertempat di halaman utama Kantor BBPPKS Regional IV Kalimantan Jalan Tikora RT.32 RW.05 Guntung Manggis Banjarbaru pada 17 Agustus 2019 ini di hadiri oleh seluruh unsur dan komponen yang berada di lingkungan Kantor BBPPKS Regional IV Kalimantan seperti Pejabat Struktural Eseloon III, IV, Pejabat Fungsional, staf dan tenaga honorer serta tenaga outsorsing. Selaku Inspektur upacara adalah Kepala Bagian Tata Usaha ( Ibu Hj.Badriyah).

Pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan RI Ke-74 dengan menggunakan berbagai kostum Adat Nusantara oleh seluruh peserta upacara menambah nuansa keberagaman adat dan budaya di negeri tercinta Indonesiaku, diakhiri dengan Foto Bersama di halaman Kantor BBPPKS Regional IV Kalimantan seluruh peserta upacara berbaur dalam kebersamaan. #Admin

   

MENTERI SOSIAL RI. MENYAPA PESERTA DIKLAT LURING FDS PKH KALIMANTAN

Menteri Sosial RI. di Tengah Peserta Diklat Luar Jaringan (LURING) P2K2/FDS PKH.

Banjarbaru, 24 Juli 2019, BBPPKS Regional IV Kalimantan untuk pertama kali di kunjungi oleh Meteri Sosial RI
(Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita) semenjak Dilantik menjadi Meteri Sosial pada awal Tahun 2019, dalam
kunjungan kerjanya di Provinsi Kalimantan Selatan, Meteri Sosial RI. menyempatkan hadir di BBPPKS Regional IV Kalimantan sebagai salah satu Unit Pekasana Teknis Kediklatan Kementerian Sosial RI. Pada kesempatan yang sama pula, BBPPKS Regional IV Kalimantan sedang menyelenggarakan Diklat Luar Jaringan (Luring) atau Klasikal P2K2/FDS PKH bagi para pendamping PKH di Regional Kalimantan yang telah memasuki gelombang ke VI sebanyak 126 peserta Diklat.
Dalam sambutannya Bapak Menteri Sosial RI menyampaikan Apresiasi kepada Seluruh pendamping PKH di Indonesia dan khususnya di Regional Kalimantan bahwa sekecil apapun peran rekan-rekan pendamping didalam upaya ikut menurunkan angka kemiskinan di republik ini amat sangat di hargai oleh pemerintah. Kerja Keras rekan-rekan pendamping PKH dalam mendampingi para KPM hingga mereka dapat hidup mandiri dan graduasi dari Kepesertaan PKH merupakan satu prestasi yang tidak dapat dianggap remeh.
Bapak Meteri Sosial dalam paparannya juga menyampaikan bahwa berdasarkan Data yang di rilis Badan Pusat Statistik pada bulan April 2019, menunjukan penurunan angka kemiskinan pada level 9,41 % yang sebelumnya pada bulan September 2018 berada pada posisi 9,66% yang berarti sekitar 800-san ribu KPM. Selain berhasil menurunkan angka kemiskinan tetapi juga berhasil memperbaiki gini rasio/ketimpangan kesejahteraan yang pada bulan september 2018 berdasarkan data BPS berada pada 0,384 dan pada April 2019 berada pada 0,381. dalam level atau tingkat apapun dalam proses penuruna angka kemiskinan bukanlah hal muda apalagi berbarengan dengan perbaikan gini rasio.
Di akhir pidatonya Bapak Menteri Sosial RI menyampaikan ucapan terima kasih kepada rekan-rekan pendamping PKH sebagai garda terdepan didalam mendampingi dan mengawal bantuan sosial pemerintah yang di serahkan untuk KPM.

MENYAMBUT ERA PEMBELAJARAN TANPA TATAP MUKA

OPINI PUBLIK, oleh Syahid WN. (Widyaiswara)

20/06/2019, Teknologi informasi berkembang deras. Arusnya hampir mustahil dilawan. Semua lini kehidupan dari rumah tangga hingga tempat kerja beradaptasi dengan perkembangan ini. Tidak bisa tidak. Pun lingkup pendidikan dan pelatihan (diklat). Lembaga diklat telah memasuki era minim tatap muka. Peran pelatih, buku, modul, alat bantu pembelajaran, media, metode dan perangkat kediklatan lainnya memasuki fase baru, yaitu fase yang memberi kemungkinan pembelajaran dilaksanakan tanpa tatap muka langsung. Model-model pembelajaran dalam jaringan dikembangkan dan perangkat pendukungnya diciptakan. Tulisan sederhana ini merupakan opini penulis berdasarkan pengalaman dan proses kediklatan FDS dalam jaringan serta berdasar informasi yang tersebar di internet terkait pembelajaran elektronik. Semoga menjadi wacana kesiapan terutama bagi lembaga diklat dalam menyambut era tanpa tatap muka.

  1. Ketersediaan jaringan dan penguasaan teknologi

Pembelajaran elektronik adalah konsekwensi logis dari perkembangan teknologi dan informasi yang mempengaruhi dunia pendidikan dan pelatihan. Pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada proses interaksi pelatih dan mitra belajar di ruang-ruang diklat, kini berganti polanya. Komputer/gawai lengkap dengan panduan-panduan elektroniknya menjadi ‘guru’ yang dianut dan diikuti mitra belajar. Untuk kepentingan ini, ketersediaan gawai beserta jaringannya menjadi rukun utama. Jika rukun ini tidak tersedia atau terganggu, pembelajaran nyaris batal. Ibaratnya seperti pembelajaraan konvensional yang ruang kelas dan seluruh ATK-nya tersapu banjir atau mengalami musibah kebakaran. Pembelajaran memang tetap bisa dilaksanakan di bawah pohon rindang, tapi itu kondisi darurat yang tidak ideal. Maka wajib bagi lembaga diklat masa kini untuk mematangkan kesiapan peralatan keras dan lunak dengan stabilitas jaringan internet yang tangguh. Tanpa itu, pembelajaran elektronik mungkin tetap bisa berlangsung tapi berjalan dengan panik dan kurang menarik.

Berkaca dari pengalaman diklat FDS, kendala jaringan menjadi poin yang sangat sering dikemukakan ketika menyebut kendala keberhasilan pencapaian tujuan diklat. Telaah atas modul, forum diskusi, pengerjaan tugas dan latihan, akses video tutorial dan kelengkapan pembelajaran elektronik lainnya tidak maksimal jika jaringan tidak tangguh. Di beberapa daerah pada wilayah regional Kalimantan kendala jaringan masih perlu menjadi perhatian serius setiap kali lembaga diklat ingin mengembangankan model-model pembelajaran elektronik.

Keharusan berikutnya adalah penguasaan teknologi oleh SDM-SDM yang terlibat. Fasilitator, mitra belajar, pendamping dan unsur lainnya yang terlibat harus mengakrabi teknologi informasi yang berkembang tiada henti. Inilah sesungguhnya titik krusialnya, yaitu bahwa ruang diklat yang sekarang menjadi media belajar adalah sesuatu yang tidak pernah berhenti berkembang. Maka lembaga diklat harus dihuni oleh orang-orang yang juga tidak berhenti mengembangkan diri. Mungkin akan terengah-engah jika memaksakan diri sejajar dengan perkembangan teknologi, tapi setidaknya tidak tertinggal terlalu jauh oleh teknologi terbaru adalah pilihan minimalis yang harus diambil. Apa kewajiban utama bagi SDM diklat? Adalah keingintahuan dan gairah belajar yang selalu tinggi. Jika ini tidak dimiliki, upaya membangun model pembelajaran elektronik hanya akan menyentuh aspek permukaan dan akan gagal mencapai tujuan yang mendalam.

  1. Pemenuhan aspek pengetahuan, keterampilan dan nilai

Dalam ranah pembejaran secara umum dan dalam kaidah profesi pekerjaan sosial, aspek-aspek pengetahuan, keterampilan dan anutan nilai adalan tiga hal yang harus dicapai secara simultan. Pembelajaran elektronik juga harus mengakomodir prinsip-prinsip dasar kediklatan dalam ranah pekerjaan sosial ini. Keluaran diklat harus pribadi-pribadi yang berkembang dan bertumbuh pengetahuan, keterampilan dan komitmennya atas nilai-nilai.

Pada aspek pengetahuan, kiranya pembelajaran elektronik sudah mendesain dirinya dengan sangat baik. Panduan dan model belajar dalam jaringan telah membekali kognisi yang memadai. Demikian juga juga beberapa latihan dan penugasan telah mendorong mitra belajar untuk memperluas pengetahuan dengan membaca dan menelaah banyak referensi. Tetapi pada aspek keterampilan dan nilai nampaknya model pembelajaran elektronik harus terus dibenahi agar perangkat yang telah disediakan lebih responsif terhadap kebutuhan pencapaian kompetensi ini. Video tutorial telah disediakan dan beberapa media diskusi juga disiapkan, tetapi capaian pada aspek keterampilan dan nilai tetap dirasa perlu ditingkatkan. Menjawab hal ini, model campuran antara pembelajaran daring dan luring bisa menjadi solusi meskipun model campuran ini akhirnya menghapus kelebihan pembelajaran elektronik pada sisi penghematan biaya. 

  1. Aspek akademis vs aspek sosial

Efektifitas dan efisiensi mungkin menjadi keunggulan penting pada aspek akademis dari model pembelajaran elektronik ini. Pembelajaran melalui interaksi maya bisa dilakukan dimana saja. Waktu, biaya, tenaga dan berbagai sumber daya bisa didayagunakan dengan efektif dan efisien. Tetapi hilangnya kesempatan tatap muka langsung tentu harus disadari sebagai kerugian. Dalam model diklat tatap muka, interaksi adalah keuntungan sosial yang langsung didapatkan bahkan sejak pertama para mitra belajar memasuki kampus diklat. Keuntungan sosial itu berkembang sejalan waktu dan hari-hari diklat. Tidak hanya di kelas pembelajaran, ruang makan, asrama, kamar mandi, jemuran, arena olahraga, dan di setiap tempat interaksi, keuntungan sosial itu datang bertubi-tubi. Dan keuntungan sosial ini terdegradasi oleh ketiadaan tatap muka.

Kerugian ini perlu dipikirkan. Keuntungan akademis harus ditimbang dengan kerugian sosial. Agar seimbang, keuntungan akademis yang didapatkan harus berlipat-lipat lebih banyak dari kerugian sosial yang dialami. Selain itu, potensi kerugian sosial ini harus dicarikan solusi agar pembelajaran elektronik tetap melahirkan keuntungan keuntungan sosial seperti pengembangan jaringan kerja, soliditas tim, pengalaman hidup bersama dan jenis lain keuntungan sosial. Prinsipnya: sehangat-hangat dunia maya, pertemuan nyata tetap membuat hidup lebih sehat.

  1. Kewiraan akademis

Pembelajaran elektronik berada di ranah maya. Di sana semua informasi tersedia, semua pengetahuan tersaji. Kita tinggal memungut dengan mudah dan murah. Dengan biaya dan tenaga yang minimal, kita bisa mendapatkannya dengan maksimal. Tetapi inilah titik celakanya. Seringnya, dimana sesuatu didapat dengan mudah dan murah, mutunya kurang terseleksi. Informasi berserakan dan kita sulit membedakan mana informasi sampah dan mana yang berharga. Segala jenis pengetahuan mudah dipungut tanpa kita tahu itu milik siapa. Kita bisa mengklaim itu milik kita dan milik kita mudah diklaim sebagai milik orang lain. Kejujuran akademis diuji disini.

Sebagaimana perguruan tinggi dan sekolah, lembaga diklat adalah tempat persemaian kejujuran dan nilai kebaikan. Plagiarisme dan pencurian hak paten produk-produk keilmuan sangat mudah terjadi di internet. Pembelajaran elektronik harus mengantisipasi  dan menganggap hal ini sebagai potensi bencana keilmuan yang serius.  Lembaga diklat harus mewaspadai potensi bencana ini dan memasang rambu-rambu yang tegas untuk seluruh aktifitas pembelajaran elektronik.

  1. Motivasi belajar

Pembelajaran elektronik adalah pembelajaran mandiri. Sangat tepat bagi orang-orang yang telah selesai dengan masalah motivasi internalnya. Baik bagi pebelajar yang mengenal kelemahan dan kekuatan dirinya, memahami apa yang dia butuhkan, mengenal arah yang akan dituju dan mengerti cara mengatasi hambatan belajarnya.  Pembelajaran elektronik yang mempersyaratkan kemandirian, tidak cocok bagi orang-orang yang bahkan melawan kemalasan dirinya saja masih sering gagal. Pembelanjaran elektronik yang rukun utamanya adalah kemandirian, akan gagal diikuti oleh pribadi-pribadi yang masih membutuhkan motivasi eksternal dari guru, pembimbing atau pelatih.

* * * * * * * *

Opini sederhana ini memberikan catatan akhir yang juga sederhana. Pembelajaran elektronik adalah fase baru diklat. Fase baru ini akan sukses hanya jika fase sebelumnya telah dijalani dengan matang. Fase baru yang terus bertumbuh dan berkembang ini akan sukses jika di fase sebelumnya, semua SDM diklat telah memiliki semangat belajar dan gairah berubah yang baik. Fase baru dimana keberhasilan belajar ditentukan oleh motivasi internal pebelajar akan sukses jika mitra diklat tanpa tatap muka telah memiliki antusiasme dan kuriositas yang baik. Fase baru yang semua informasi mudah dicuri ini akan berhasil jika di fase sebelumnya, semua pribadi telah membekali diri dengan kejujuran dan komitmen keilmuan.  Pesan kuncinya: Untuk panen manfaat di dunia maya, terlebih dahulu tradisikan mashlahat di dunia nyata.

Wallahu a’lam.

Bacaan:

https://dosenit.com

Halal Bihalal Setelah Libur Lebaran 1440 H. Pegawai BBPPKS Regional IV Kalimantan.

Banjarbaru 10/6/2019, Setelah melaksanakan libur lebaran Idul Fitri 1440 H. Seluruh Pegawai BBPPKS Regional IV Kalimantan kembali memasuki hari pertama kerja yang di awali dengan kegiatan silaturahmi atau halal bihalal seluruh pegawai, disela – sela kegiatan, Kepala BBPPKS Regional Kalimantan (Bp. Rasman) berpesan untuk selalu menjaga kebersamaan dan terus memupuk semangat berkerja dan memupuk semangat untuk berdisiplin, berkinerja, bersinergi dan bermartabat baik diinternal balai  maupun dengan relasi kerja di regional kalimantan. #Adminweb